Kamis, 12 Desember 2013

Kisah Sang Putri Mesto dan 
Pangeraan Tasta

Mesto, sebuah kerajaan ditepi  sebuah pulau yang indah. Yang tanahnya begitu subur dengan alam, yang begitu indah. Di kerajaan hidup seorang putri yang cantik, dia seorang putri yang ceria penuh energi walau terkadang tubuhnya cepatnya lelah. Dia sering menghabiskan waktunya untuk mencari kesenangnan baik bermain disebuah taman yang ada disamping kerajaan, mengelilingi daerah-daerah disekitar kerajaan atau mendatangi danau yang terletak tak jauh dari kerajaan. Ia dia begitu senang berada di danau itu, sekedar menikmati indahnya danau atau menenangkan pikirannya disana.

Suatu saat sang putri pergi sendiri ke danau tersebut untuk menghilangkan penat. Berlari-lari dia disekililing danau, sejenak juga hanya duduk disamping danau yang dipenuhi dengan rumput-rumput dan bunga-bunga yang begitu indah serta berwarna-warni. Terlalu asyik memandangi danau membuatnya melamun untuk sesaat. Lamunanya terpecah tiba-tiba saat sang putri mendengar beberapa langkah kaki kuda yang semakin mendekat. Kepalanya celingukan berusaha mencari sumber suara itu, tiba-tiba muncul beberapa kuda dengan penunggangnya dari balik hutan. Ternyata rombongan dari kerajaan seberang yang tak sengaja melewati danau tersebut. Didepan rombongan berkuda itu terlihat seorang pria yang asik memandangi danau, dialah pemimpin rombongan berkuda dan juga pangeran dari kerajaan Tasta. “siapa kalian? Kenapa ada disini?!” tanya sang putri dengan nada agak tinggi. Sang pangeran lalu menolehkan wajahnya ke sang putri, betapa kagetnya sang pangeran melihat sang putri yang sedang bertanya kepadanya. Beberapa detik pangeran hanya diam terpaku melihat ada seorang putri yang cantik dengan dikelilingi bunga-bunga. “kenapa kau diam?” tanya sang putri lagi, pangeran langsung berhenti memandanginnya dan menjawabnya dengan sedikit gugup. Pengeran menjelaskan bahwa dirinya dari kerajaan seberang dan sedang menuju kerajaan Mesto untuk keperluan kerjasama antara kedua kerajaan dan tidak sengaja melewati danau tersebut.

Pangeran turun dari kuda dan berjalan perlahan mendekati sang putri. “hey.. si siapa kamu?” kata pangeran ke sang putri dengan grogi. Mereka berkenalan  sejenak disana, tak lebih dari beberapa menit sang putri menawarkan untuk dirinya mengantar pangeran dan rombongannya ke kerajaannya. Dengan senang hati pangeran menerima tawaran sang putri yang cantik, pangeran pun menawarkan untuk putri agar mau menunggang kuda bersamanya agar lebih cepat dan tidak membuat sang putri lelah untuk berjalan. Diperjalanan hati pangeran itu berdetak dengan cepat, aliran darahnya terasa mengalir begitu kencang dan terus saja berdebar-debar saat menunggang kuda dengan sang putri. Sekilas pangeran menoleh kebelakang ke arah sang putri yang berada dibelakanganya tepat, sang putri hanya tersenyum manis melihat pangeran langsung pangeran memalingkan wajahnya kedepan dengan gugup.

“Raja, saya datang kesini untuk membahas soal kerjasama anatara kerajaan kita demi kemajuan kedua kerajaan” kata pangeran yang setengah jongkok bertemu sang raja di singgahsananya. Sesekali pangeran melirik kearah sang putri yang duduk tepat disamping raja dan ratu. Keperluan kersama itu membuat pangeran beserta rombongan dari kerajaannya terpaksa menginap beberapa hari dikerajaan Mesto. Raja menyuruh sang putri untuk mengantar pangeran untuk berkeliling kerajaan dan wilayahnya. Mereka sering menghabiskan waktu berdua saja mengelilingi negeri Mesto. Kebersamaan yang beberapa hari mereka lalui membuat perasaan sang pangeran semakin kuat ke sang putri. Mereka berkuda melihat sisi-sisi negeri, menyantap makanan khasnya, masih banyak tempat lagi yang mereka datangi terutama air terjun yang ada dinegeri itu. Jalan yang terjal dengan medan yang turun untuk mencapai air terun membuat sang putri kesusahan untuk berjalan, dengan segera pangeran memegang tangannya dan menuntunnya aga tidak terjatuh. Sesekali saat mereka berjalan dengan bergandengan tangan mereka saling memandang sebentar. Sesuatu yang membuat sang putri merasa berdebar hatinya, terlihat  lebih romantis dengan rimbunannya pohon-pohon pinus disekitarnya.

Sang putri dan pangeran terkagum-kagum melihat air terjun yang begitu indah. Butiran-butiran air yang terlempar karena air yang jatuh dari atas membuat udara menjadi lebih segar. Sang putri lalu mengajak pangeran untuk lebih mendekat ke air terjun. Berhati-hati mereka menaiki bebatuan yang besar yang berada dekat air terjun. Disebuah batu besar mereka berdiri menatap indahnya air terjun yang begitu indah didepan mereka dengan butiran-butiran air yang perlahan membasahi mereka berdua, sesekali agin bertiup kencang dan membuat butiran-butiran air itu mengarah merekan namun pangeran dengan cekatan memeluk sang putri agar tidak basah kuyuh. Sang putri dan pangeran tersenyum bahagia saat itu, kebahagiaan terlihat begitu nampak diwajah mereka.

Pangeran menguatkan hatinnya dan mencoba buat lebih tenang, lalu mengarahkan badannya ke sang putri dan berkata “I love you” sang putri terkaget, dia diam lalu tersimpul senyum dibibirnya dan menahan malu “I love you too” saut sang putri pelan dengan malu. Mereka berdua saling memandang  sebentar dan terlihat malu jika memandang lama-lama.

Diperjalanan pulang dari air tejun dengan menunggang kuda pangeran tiba-tiba hujan turun dengan deras. Pangeran mengarahkan kudanya kesebuah pohon yang rindang untuk mereka meneduh sembari menunggu hujan reda. Cukup lama mereka menunggu dibawah pohon namun hujan juga tak kunjung reda. Sang putri mulai kedinginan, badannya mulai mengigil tak mampu menahan dinginnya. Melihat sang putri yang mengigil kedinginan pangeran pun dengan cepat memeluknya erat-erat mencoba untuk menghangatkannya, mengosok-gosok lengan sang putri agar tidak kedinginan. Sungguh hari yang istimewa dari pada hari-hari lainnya untuk sang putri dan pangeran.

Hari sudah larut saat pangeran berada dikamarnya untuk beristirahat, mata tak sama sekali mengantuk padahal malam sudah mulai larut. Sang putri pun sudah tertidur lelap dikamarnya dengan wajah tersenyum kecil seperti sedang mimpi indah karena kebahagiaan hari ini.
Malam itu suasaan kerajaan Mesto begitu tenang hanya terdengar suara jangkrik dan katak. Namun tiba-tiba “bluaaaaarrrr....!!!!!” sebuah bola api menghantam dan menghancurkan pintu gerbang kerajaan. Para penjaga yang terlempar karena ledakan itu. Tak jauh dari kerajaan nampak ribuan pasukan yang siap perang dengan membawa senjata-senjata  “Serbu kerajaan itu!” perintah seorang yang berada didepan pasukan. Pasukan penyerang itu berlari sekencang-kencangnya kekerajaan. Peperangan pun tidak bisa dihindarkan. para pasukan kerajaan Mesto berperang mati-matian untuk menjaga kerajaan. Namun karena serangan yang tiba-tiba banyak pasukan Mesto yang tewas. Berlahan para penyerang itu mendekati pusat kerajaan. Raja, ratu, dan sang putri sudah berada di ruang pusat kerajaan dan dilindungi oleh puluhan pasukan. “blaak...blaaak...blaaaakkk” pintu ruang puasat kerajaan pun terdobrak oleh para pasukan penyerang. Peperangan tidak bsia dihindari para pengawal raja mencoba melindungi raja, namun sayang mereka kalah jumlah dan beberapa pasukan mati dan beberapa disandera.

Ternyata pemimpin dari para penyarang itu adalah Raja Nord seorang raja yang masih muda dan beregois tinggi. “ternyata begini saja kekuatan pasukanmu? Menyedihkan sekali” kata Raja Nord. Para raja, ratu dan putri pun terlihat geram namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena keadaan menyudutkan mereka. Raja Nord menjelaskan maksud penyerangnya adalah untuk menguasai kerajaan Mesto dan menjadikan sang putri untuk menjadi istrinya.

Raja pun semakin marah dan langsung mencabut pedang dipinggangnya lalu menghunuskannya kearah Nord. Namun sayang raja Nord mampu untuk menghindar dan mengarahkan pedangnya yang dari tadi dia pegang ke arah raja. “aaahhhhh!!!!” Raja Mesto berteriak kesakitan lalu terjatuh bersimbah darah. Raja Nord hanya tertawa lebar melihat kondisi raja yang tak berdaya. Ratu dan sang putri berlari sambil air mata mereka menetes. Raja Nord semakin tertawa lebar merasa dirinya telah menang. Sang putri tak mampu lagi menahan amarahnya, dia mengambil pedang milik ayahnya dan berlarik ke arah Nord mengarahkan pedang itu. Dengan mudah Raja Nord menghindarinya. Tak henti-hentinya sang putri menyabetkan pedang itu namun tak segores pun terkena Raja Nord. Putri akhirnya terjatuh, tak kuat lagi untuk menganyunkan pedang tersebut. Raja Nord mendekatinya perlahan sambil tertawa licik. Saat hampir dekat dengan sang putri, tiba-tiba “wuuuss” sebuah pedang gelati kecil lewat didepan Raja Nord dan hampir mengenainya.

Raja Nord menoleh dengan cepat ke arah datangnya gelati itu. Disana dia melihat Sang Pangeran yang sudah berdiri tegak menantang untuk melawannya. Sang pangeran mengambil nafas dalam dan berteriak “jangan sakiti putri, dan jangan sakiti semuanya. Pegilah dari sini sebelum kau ku kalahkan!” pangeran begitu yakin dan langsung berlari kearah Raja Nord sambil menarik pedang dipunggungnya.  Sang putri hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa, begitu juga para pasukan kerajaan yang disandera oleh para anak buah Raja Nord. Pertarungan itu hanya milik Sang pangeran dan Raja Nord tanpa ada yang menganggu, pertarungan antar pemimpin kerajaan.

Pertarungan mereka berdua sangatlah hebat, seperti kekuatan mereka seimbang jadi susah untuk menentukan siapa yang akan menang. Mereka saling mengayunkan pedang, terkadang keluar percikan api dari benturan pedang mereka. Luka-luka pun semakin diderita mereka, pedang yang kadang saling menggores kulit mereka membuat pakaian mereka berlumuran darah. Tiba-tiba pangeran salah mengambil pijakan kaki membuat dirinya sedikit lengah kesempatan itu tak disia-siakan oleh Raja Nord untuk mengayunkan pedangnya keras-keras ke pangeran. Dengan posisi yang tidak menguntungkannya namun beruntung pangeran mampu sedikit menahan pedang Raja Nord walau pada akhirnya pedang itu juga menggores badan sang pangeran. Pangeran terjatuh tak mampu menahan lagi badannya karena luka itu. Raja Nord tertawa pelan dan berjalan mundur menjauh dari pangeran, dia berfikir pangeran sudah tewas. Sang putri menangis dan memanggil-manggil nama pangeran untuk bangun dan bangkit lagi. Alangkah terkejutnya Raja Nord melihat pangeran yang berlahan mampu bangkit lagi untuk berdiri dan melawannya. Walau badannya penuh dengan darah namun pangeran tetap berusaha berdiri dan mengenggam erat pedang ditangannya.

Raja Nord seakan tak percaya dan dia sangatlah marah. Tanpa pikir pangjang dia lalu berlari kearah pangeran dengan pedang yang siap berada ditangannya. Pangeran berjalan pelan dengan susah payah, terus berjalan pelan namun berlahan dia mulai meningkatkan kecepatan larinya. Akhirnya pangeran mampu untuk berlari kearah Raja Nord yang sedang berlari kearahnya juga. “aku akan melindungi putri dan seluruh kerajaan Mesto ini...!!!” teriak pangeran dengan kencang sambil berlari dengan pedang ditangannya.

Mereka  berlari semakin mendekat, saat mereka sudah dekat diayunkan pedang yang mereka genggam “taaaang!!” suara keras dari benturan pedang mereka yang sampai menimbulkan percikan api. Namun dengan cepat pangeran memutarkan badannya dan mengayunkan pedangnya kearah punggu Raja Nord. “aaahhhgggg....” raja Nord berteriak kesakitan, pedang yang ia bawa terlpas dari gengamannya. Dia pun terjatuh tak kuat menahan badannya lagi untuk berdiri. Nafasnya mulai susah dan tak terkontrol, berlahan matanya tertutup. Pangeranlah yang akhirnya menang dari pertarungan sengit itu dan bisa membunuh Raja Nord.

Para pasukan Raja Nord pun bingung, tak percaya bahwa raja mereka yang terkenal sangat kuat bisa ditaklukkan oleh sang pangeran. Saat itu lah pasukan bantuan kerajaan Mesto datang, ribuan pasukan bantuan langsung menyerang para pasukan Raja Nord yang nampak bingung.
Pangeran menjatuhkan pedang yang ada ditangannya dan berjalan mendekati sang putri, dipeluknya erat sang putri didekapannya. Sang putri tak mampu menahan tangis karena perjuangan yang begitu luar biasa pangeran untuk melindunginya dan seluruh kerajaan Mesto. “terima kasih kau telah melindungiku dan seluruh kerajaan Mesto ini, aku tak tau akan jadi apa aku dan kerajaan ini jika kaua tak ada” ucap sang putri yang sembari menangis. Pangeran tersenyum kecil dan berkata “dan aku tak tau pula apa jadinya aku tanpa kamu..” dia mengeratkan pelukannya seakan dia sang putri begitu berarti untuknya. Syukurlah sang raja yang sebelumnya terluka ternyata masih mampu untuk bertahan, dengan dibantu ratu untuk berdiri mereka melihat sang putri dan pangeran begitu bahagia.


Esok harinya kerajaan Mesto pun mulai berbenah. Karena penyerangan oleh Raja Nord dan pasukannya membuat kerajaan Mesto banyak yang rusak dan harus diperbaiki. Para rakyat dan pasukan-pasuakan memperbaiki bangunan-bangunan yang rusak agar bisa kembali menjadi kerajaan yang indah. Dan Pangeran dari kerajaan Tasta dan sang putri kerajaan Mesto akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya. 

Tidak ada komentar: