Minggu, 08 Januari 2012

tugas akhir ( dampak negatif dan dampak positif dari fenomena alam 2. tanaman apa saja yg dapat di jadikan obat dan bandingkan pengobatan tradisional dengan kedokteran 3. pengertian tata surya ;proses tata surya, matahari,planet,pelangi ; terbentuknya manusia.

       I.            DAMPAK  NEGATIF DAN DAMPAK POSITIF FENOMENA ALAM
Ø  BADAI TROPIS
Badai Tropis atau umumnya disebut Siklon Tropis adalah fenomena alam berupa pusaran angin, hujan dan badai petir dalam suatu daerah tertutup. Siklon tropis hanya dapat tumbuh dan berkembang di atas wilayah perairan tropis dan sub tropis yang hangat dengan kelembaban udara tinggi.

Badai Tropis (Tropical Storm)
Pada badai tropis mulai terlihat bentuk spiral, namun tidak terlihat adanya mata. Kecepatan angin maksimum berkisar dari 17 hingga 33 meter per detik ( 34 s/d 63 knot, 39 s/d 73 mph atau 62 s/d 117 km/jam). Untuk Badai Tropis diberikan nama-nama yang khas untuk membedakan antara setiap kejadian badai tropis.

Ø  Dampak Negatif
           Siklon tropis pada lautan terbuka akan menimbulkan gelombang tinggi, hujan deras dan   angin berkecepatan tinggi, sehingga mengganggu jadwal pelayaran bahkan menenggelamkan kapal-kapal. Walau demikian, dampak terbesar dari siklon tropis terjadi apabila siklon tropis   bergerak ke arah daratan dan menyebabkan tanah runtuh.
           Siklon tropis yang bergerak ke arah daratan dapat menyebabkan kerusakan langsung lewat empat macam cara, yakni :

•  
Angin berkecepatan tinggi
Kekuatan angin hurricane dapat menghancurkan mobil, bangunan, jembatan, dan sebagainya. Kekuatan angin dapat menerbangkan berbagai macam benda yang dapat menghantam penduduk yang berada di daerah terbuka.
•
Gelombang laut (storm surge)
Bencana terburuk dari siklon tropis disebabkan oleh melonjaknya gelombang laut. Gelombang laut tinggi akan masuk ke daratan dan menyeret penduduk yang berada di kawasan pantai. Sekitar 80 % korban tewas akibat badai tropis disebabkan terjangan gelombang laut.
•
Hujan deras
Aktifitas badai petir pada siklon tropis menimbulkan hujan lebat. Sungai dan saluran air akan meluap, jalan-jalan tidak dapat dilewati, dan dapat disusul oleh tanah longsor.
•
Angin Tornado
Radius wilayah hurricane yang luas dapat menebarkan angin tornado di berbagai tempat. Meskipun tidak sekuat hurricane, angin tornado dapat menyebabkan kerusakan serius.
Ø  Dampak sekunder dari siklon tropis juga cukup merugikan, seperti :
•  
Penyakit menular
Lingkungan basah pasca siklon tropis, disertai kerusakan sarana kebersihan dan iklim tropis yang hangat dapat menjangkitkan penyakit menular yang bertahan lama setelah peristiwa badai.
•
Ketiadaan listrik
Kerusakan jaringan listrik akibat siklon tropis akan menghambat komunikasi dan usaha pertolongan korban.
•
Kesulitan transportasi
Hancurnya sarana transportasi seperti jembatan, terowongan dan jalan akan menyulitkan pengiriman makanan, air bersih dan obat-obatan .
Ø  Dampak Positif
            Walaupun banyak kerugian yang timbul akibat siklon tropis, secara global siklon tropis sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan panas atmosfer bumi dengan cara memindahkan panas, dan kelembaban yang tinggi di daerah tropis ke wilayah sub tropis dan kutub yang lebih dingin.
            Pada beberapa situasi khusus, siklon tropis membawa dampak positif bagi wilayah- wilayah yang terkenda dampaknya. Di wilayah Jepang, sebagian besar curah hujan yang turun merupakan dampak dari typhoon. Hurricane Camille mengakhiri kondisi kekeringan dan kesulitan air pada daerah-daerah yang dilewatinya. 


    II.            TANAMAN YANG DAPAT DI JADIKAN OBAT TRADISIONAL
ü  Buah / daun belimbing manis : untuk menurunkan kolesterol.
ü  Daun adpokat                          : untuk diuretic, stomatick.
ü  Daun crème                             : untuk anti abesitas .
ü  Daun jinten                              : untuk sariawan, obat batuk.
ü  Daun kecubung putih              : untuk obat asma, obat encok.
ü  Daun kembang sepatu             : untuk febrifuga.
ü  Akar kembang sepatu              : untuk obat batuk.
ü  Daun ketela rambat                  : untuk obat beri-beri.
ü  Kulit kayu kina                        : untuk obat malaria,antiperetik.
ü  Daun kumis kucing                  : untuk diuretic, obat batu ginjal.
ü  Daun pacar cina                       : untuk mengurangi pendarahan pada waktu haid.
ü  Daun pandan wangi                 : untuk aromatic.
ü  Bunga tanjung                         : untuk astringen,obat asma.
ü  Daun lobak                              : untuk  laksatif.
ü  Daun valerian                          : untuk anti spasmodic.
ü  Daun waru                               : untuk laksatif.
 III.            PERBANDINGAN PENGOBATAN TRADISIONAL DENGAN KEDOKTERAN
No.
Obat Tradisional
Obat Kimia
1.
Harganya terjangkau
Harga relatif mahal karena faktor impor.
2.
Efek samping relatif kecil bahkan ada yang sama sekali tidak menimbulkan efek samping jika digunakan secara tepat.
Efek samping pengobatan lebih sering terjadi.
3.
Reaksinya lambat.
Reaksinya cepat.
4.
Memperbaiki keseluruhan sistem tubuh.
Hanya memperbaiki beberapa sistem tubuh.
5.
Efektif untuk penyakit kronis yang sulit diatasi dengan obat kimia.
Relatif kurang efektif untuk penyakit kronis
6.
Terapi sampingan: Diet terhadap makanan tertentu.
Terapi sampingan: diet terhadap makanan tertentu dan perlakuan tertentu pada tubuh seperti bedah atau operasi dan manajemen stres.





















 IV.            PENGERTIAN TATA SURYA
Tata surya adalah  kumpulan dari beberapa planet dan benda angksa lain yang berevolusi atau bergerak mengelilingi matahari sebagai pusatnya.

    V.            Teori-teori tentang proses terbentuknya tata surya dapat dikelompokan menjadi beberapa teori, yaitu sebagai berikut.

a. Teori nebula (Kant dan Laplace)
Teori Nebula pertama kali dikemukakan seorang filsuf Jerman bernama Imanuel Kant. Menurutnya, tata surya berasal dari nebula yaitu gas atau kabut tipis yang sangat luas dan bersuhu tinggi yang berputar sangat lambat. Perputaran yang lambat itu menyebabkan terbentuknya konsentrasi materi yang mempunyai berat jenis tinggi yang disebut inti massa di beberapa tempat yang berbeda. Inti massa yang terbesar terbentuk di tengah, sedangkan yang kecil terbentuk di sekitarnya Karena terjadi proses pendinginan, inti-inti massa yang lebih kecil berubah menjadi planet-planet, sedangkan yang paling besar masih tetap dalam keadaan pijar dan bersuhu tinggi yang disebut matahari.

Teori nebula lainnya dikemukakan oleh Pierre Simon Laplace. Menurut Laplace, tata surya berasal dari bola gas yang bersuhu tinggi dan berputar sangat cepat. Karena perputaran yang sangat cepat, sehingga terlepaslah bagian-bagian dari bola gas tersebut dalam ukuran dan jangka waktu yang berbeda-beda. Bagian-bagian yang terlepas itu berputar dan akhirnya mendingin membentuk planet-planet, sedangkan bola gas asal dinamakan matahari.
                      
               b. Teori planetesimal (Moulton dan Chamberlain)
                 Moulton dan Chamberlain, berpendapat bahwa tata surya berasal dari adanya bahan- bahan padat kecil yang disebut planetesimal yang mengelilingi inti yang berwujud gas bersuhu tinggi. Gabungan bahan-bahan padat kecil itu kemudian membentuk planet-planet, sedangkan inti massa yang bersifat gas dan bersuhu tinggi membentuk matahari.
                         
  
                c. Teori pasang surut (Jeans dan Jeffreys)
                 Astronom Jeans dan Jeffreys, mengemukakan pendapat bahwa tata surya pada awalnya hanya matahari saja tanpa mempunyai anggota. Planet-planet dan anggota lainnya terbentuk karena adanya bagian dari matahari yang tertarik dan terlepas oleh pengaruh gravitasi bintang yang melintas ke dekat matahari. Bagian yang terlepas itu berbentuk seperti cerutu panjang (bagian tengah besar dan kedua ujungnya mengecil) yang terus berputar mengelilingi matahari, sehingga lama kelamaan mendingin membentuk bulatan-bulatan yang disebut planet.
                d. Teori bintang kembar (Lyttleton)
               Teori bintang kembar dikemukakan astronom Inggris bernama Lyttleton. Teori ini menyatakan bahwa pada awalnya matahari merupakan bintang kembar yang satu dengan lainnya saling mengelilingi, pada suatu masa melintas bintang lainnya dan menabrak salah satu bintang kembar itu dan menghancurkannya menjadi bagian-bagian kecil yang terus berputar dan mendingin menjadi planet-planet yang mengelilingi bintang yang tidak hancur, yaitu matahari.


          e. Teori awan debu (Weizsaecker dan Kuiper)
              Weizsaecker dan Kuiper, berpendapat bahwa tata surya berasal dari awan yang sangat luas yang terdiri atas debu dan gas (hidrogen dan helium). Ketidakteraturan dalam awan tersebut menyebabkan terjadinya penyusutan karena gaya tarik menarik dan gerakan berputar yang sangat cepat dan teratur, sehingga terbentuklah piringan seperti cakram. Inti cakram yang menggelembung menjadi matahari, sedangkan bagian pinggirnya berubah menjadi planet-planet.

Ahli astronomi lainnya yang mengemukakan teori awan debu antara lain, F.L Whippel dari Amerika Serikat dan Hannes Alven dari Swedia. Menurutnya, tata surya berawal dari matahari yang berputar dengan cepat dengan piringan gas di sekelingnya yang kemudian membentuk planet-planet yang beredar mengelilingi matahari.
http://www.sentra-edukasi.com/2011/09/teori-terbentuknya-tata-surya.html

 VI.            PROSES TERJADINYA MATAHARI
Proses terjadinya matahari yaitu matahari terbentuk dri reaksi kimia antara gas hydrogen dan helium reaksi kimia itu disebut reaksi atom atau kalau dirumuskan itu rumusnya E=M.C2.
VII.            PROSES TERJADINYA PLANET
Proses terjadinya planet yaitu planet adalah benda langit yang tidak bisa memancarkan cahaya sendiri karena planet tersebut terbentuk dari debu-debu luar angkasa yang karna gravitasi matahari berkumpul jadi satu.
VIII.            PROSES TERJADINYA PELANGI
Pelangi terbentuk karena pembiasan sinar matahari oleh tetesan air yang ada di atmosfir. ketika sinar matahari melalui tetesan air cahaya tersebut di bengkokkan sedemikian rupa sehingga membuat warna-warna yg ada pada cahaya tersebut terpisah. Tiap warna dibelokkan pada sudut yang berbeda.
  
 IX.            PROSES  TERJADINYA MANUSIA MENURUT AGAM ISLAM
           . Terjemah QS. Al Mukminun : 12-14
Artinya: “12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS Al Mukminun : 12-14)
              Penjelasan QS. Al Mukminun : 12-14
            a) Proses Penciptaan Manusia Menurut Pandangan Ilmu Pengetahuan Umum
Penjelasan tentang proses penciptaan manusia sebelum dijelaskan menurut pandangan ilmu pengetahuan umum Allah SWT sudah terlebih dahulu mejelaskan perihal kejadian tersebut dalam Al Qur’an seperti dalam surat Al-Mu’min, 40 : 67 bahwa Manusia adalah keturunan Nabi Adam As, jasmaninya berproses dari saripati tanah. Tumbuh-tumbuhan menghisap saripati tanah itu dan hewan memakan sebagian tumbuh-tumbuhan. Manusia memakan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Ini berarti ke dalam tubuh manusia telah masuk unsur saripati tanah.

Sebagian saripati makanan (saripati tanah), berproses manjadi nuthfah (air yang berisi spermatozoa, disebut sperma) yang terdapat pada laki-laki (suami). Melalui proses senggama, nuthfah masuk ke dalam qarar (rahim atau kandungan ibu). Di dalam rahim, nuthfah (sperma) bertemu dengan sel telur atau ovum, sehingga terjadi pembuahan.

Menurut ilmu Biologi, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan asal kejadiannya adalah dari tanah. Hal ini telah dibuktikan dengan menggunakan metode abu bekas bakaran dari makhluk hidup tersebut. Hasil penelitian tersebut diketahui bahwa unsur-unsur asli yang ada pada manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sama dengan unsur-unsur yang terdapat dalam tanah, yaitu Oksigen ( O ), Hidrogen ( H ), Zat Belerang ( S ), Zat Arang ( C ), Kalium ( K ), Natrium ( Na ), Yodium ( J ), Asam Arang ( CO2 ), Air ( H2O ) dan zat-zat lainyya yang berfungsi sebagai pelengkap.


Senada dengan pendapat di atas, Prof. Bahi Khuli mengemukakan bahwa ada unsur yang sama antara debu dan jasad manusia. Unsur-unsur tesebut adalah : Oksigen = 63 % - Karbon = 20,20 % - Hidrogen = 9,90 % - Nitrogen = 2,50 % - Kalsium = 2,45 % - Phaspor = 1,01 % - Klor = 0,16 % - Fhlor = 0,14 % - Kaporit = 0,14 % - Photasium = 0,11 % - Sodium = 0,10 % - Magnesium = 0,07 % - zat besi = 0,01 % - Yodium+Silikon+Magnet = Molekul atom.


Sabtu, 07 Januari 2012

FENOMENA ALAM

Fenomena Hujan Es
 Dalam ilmu pengetahuan, fenomena hujan es disebabkan oleh dua macam penyebab. Melalui proses hail, dan riming. Inti dari kedua penyebab tersebut sama. Sebuah proses terjadinya kenaikan molekul air dari tanah ke udara dalam waktu cepat. “Kenaikan uap air secara cepat itu yang menimbulkan awan konduktif,” ujar Nuryadi Msi, Kepala Sub Bidang Analisa Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menjelaskan, Selasa (31/3) kemarin.
Pada proses hail, es yang dihasilkan biasanya berukuran besar. Lantaran proses naiknya uap air melewati lapisan atmosfer di titik atas freezing level. Menurut penuturan Nuryadi, titik freezing tersebut bisa mencapai temperatur -40 derajat celcius, hingga -55 derajat celcius. Kenaikan uap air juga terjadi dengan kecepatan mencapai 40 km per jam.
Sementara pada proses riming, uap air lewat dingin tertarik ke permukaan benih-benih es. Pada proses ini, bentukan es bervariasi. Bisa kecil-kecil hingga mencapai sebesar kuku tangan. Namun tetap berpotensi mengganggu.
Metrotvnews.com, Bogor: Sebagian wilayah Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/10) sore tadi, diguyur hujan es. Hujan tersebut bersamaan dengan turunnya hujan deras yang disertai angin kencang.

Hujan es dan angin kencang terjadi di beberapa kawasan, di antaranya Kebon Pedes. Sebagian warga setempat ketakutan karena es yang turun sebesar batu kerikil. Namun sebagian warga lainnya justru senang, dan berebut merasakan es tersebut. Beberapa ranting pohon tumbang, meski tidak mengganggu arus lalu lintas.

warga mengaku fenomena hujan es itu menjadi peristiwa yang menarik. Bahkan anak-anak berusaha mengumpulkan butiran-butiran es yang mereka sebut turun dari langit. Sejauh ini belum ada informasi tentang kerusakan yang timbul akibat dampak dari hujan es itu.(DSY)


Penjelasan Fenomena Pelangi Api
Fenomena di atmosfer yang dikenal sebagai sebuah busur circumhorizon
atau “Pelangi Api”, terlihat saat matahari sedang tinggi di langit
(misalnya di lebih dari 58° di atas horison), dan cahayanya menembus
melalui awan-awan tinggi cirrus yang sangat terang yang terbentuk dari
kristal-kristal heksagonal. Sinar matahari yang memasuki permukaan
vertikal kristal-kristal dan meninggalkannya melalui permukaan bawahnya
dibiaskan dan dipisahkan menjadi array warna-warna yang bisa dilihat.
Saat kristal-kristal di awan-awan cirrus itu segaris secara optimal
(misal dengan permukaan-permukaan yang paralel dengan daratan), hasilnya
memperlihatkan suatu spektrum brilian dari warna-warna sebuah pelangi.

Penjelasan Fenomena Aurora Yang Terjadi Di Kutub Selatan

Fenomena Aurora disebabkan bagian partikel yang membawa energi berbenturan
dengan molekul oksigen yang hanya berjarak 20km dari permukaan bumi:
ketika molekul nitrogen mendapat benturan partikel, akan memancarkan
cahaya ungu kemerahan. Nitrogen, akan memancarkan cahaya biru:
sedangkan nitrogen yang netral akan memancarkan cahaya merah. Karena
itu, orang-orang baru dapat melihat garis cahaya merah, biru, hijau dan
ungu yang berselang-seling menyelimuti angkasa. Bahkan aurora yang
indah cermerlang memperlihatkan bentuk yang selalu berubah, ada yang
berbentuk tirai, busur, pita, sinar dan berbagai macam bentuk lainnya.
Kuat atau lemahnya solar wind dipengaruhi aktivitas di permukaan
matahari, saat matahari semakin aktif, bintik di permukaan semakin
banyak atau terjadi letusan protuberan atau lubang korona semakin
besar, solar wind yang dipancarkan semakin kuat. Partikel bermuatan
listrik yang terkandung di dalamnya semakin banyak: saat solar wind
yang lebih padat ini melintas di sekitar bumi pasti akan menghasilkan
aurora yang lebih indah dan menyilaukan, saat itulah orang-orang dapat
menyaksikan pemandangan aurora yang lebih indah dibanding tahun-tahun
biasa, atau kawasan yang bergaris lintang lebih rendah juga akan muncul
aurora. Munculnya aurora harus memiliki dua prasyarat, pertama suhu harus
rendah, kedua cuaca harus cerah. Sejumlah besar negara di dunia juga
kerap akan tampak aurora, di antaranya termasuk Norwegia, Rusia,
Finlandia, Kanada bagian utara dan Alaska, AS dan dll.Di Ft. Mc.
Murray, Kanada dan White House selain relatif murah, merupakan tempat
pemandangan terbaik aurora, waktunya adalah setiap tahun pada Oktober
dan April tahun berikutnya.
INILAH.COM, Jakarta – Di dunia terdapat cuaca aneh yang sangat tak wajar. Seperti langhit berdarah, hujan ikan, bom es hingga bulan biru. Fenomena alam yang menarik. Seperti apa?
Hujan Ikan dan Katak
Dari California , Inggris hingga India , secara periodik terjadi presipitasi (hujan) aneh. Hewan kecil seperti ikan, katak dan ular jatuh dari langit beberapa kilometer dari air. Puting beliung yang berputar di danau atau samudra dapat menghisap air dan apapun yang ada di dalamnya ke awan di atasnya.
Bola Api Besar
Selama berabad-abad, orang melaporkan keanehan listrik di rumah mereka, terutama selama badai petir. Bola cahaya seukuran bola golf hingga bola sepakbola terkadang melayang di udara selama badai dan memancarkan panas serta suara.
Bola ini biasanya akan hilang ketika mengenai benda berlistrik seperti TV namun terkadang bisa meledak dengan ganas dan menyebabkan kebakaran. Bola cahaya ini tak hanya mistis juga membuat ilmuwan bingung.
Langit Berdarah
Hujan darah terdengar seperti film horor Hollywood . Namun, pada zaman Romawi kuno, hujan ini dikabarkan pernah terjadi. Meski menakutkan, hujan ini sebenarnya bukanlah darah.
Warna merah disebabkan debu atau pasir yang tertiup ke atmosfer dan dibawa angin kuat dan akhirnya bercampur dengan awan hujan dan mewarnai hujan. Di Eropa, hujan merah ini diwarnai debu yang ada di benua itu dari badai pasir Sahara .
Tiga Matahari
Di hari yang cerah, langit juga bisa memberi kejutan, setidaknya untuk mata. Jika matahari dekat dengan horizon dan awan cirrus berada di atasnya, ‘hantu’ tiga matahari akan bersinar di langit.
Matahari hantu ini sebenarnya cahaya terang yang tercipta ketika cahaya matahari dicerminkan oleh kristal kecil yang ada di awan. Meski hal ini merupakan fenomena optik umum, fenomena ini tak selalu muncul.
Bulan Biru
‘Bulan biru’ terjadi tiap dua setengah tahun ketika bulan purnama terjadi dua kali dalam satu bulan kalender. Terdapat peristiwa langka ketika bulan tampak biru. Kebakaran hutan dan gunung api dapat menembakkan abu ke atmosfer dan tercampur tetesan air.
Tetesan air ini dapat bergerak ribuan kilometer mengelilingi Bumi dan cukup untuk membuyarkan cahaya matahari dan membuat bulan berwarna biru.
Angin Puyuh Berapi
Meski tak ganas, iblis debu ini bisa sangat mengerikan. Angin puyuh ini merupakan versi kecil tornado yang terbentuk ketika panas bertemua tanah menyebabkan udara dan angin di atasnya berputar.
Angin puyuh ini tercampur debu dari tanah. Angin puyuh ini memiliki saudara yang lebih menakutkan, yakni iblis api. Iblis api terbentuk ketika panas intens hutan kebakaran menciptakan tali api yang berputar dengan ganas di atas kebakaran itu
Sprite, Jet dan Elf
Selama bertahun-tahun, pilot melaporkan kilatan berwarna aneh yang keluar dari ujung badai awan dan membuat banyak orang tak percaya. Namun kini, ilmuwan menemukan bukti jenis petir aneh ini memang ada. Sprite merah merupakan ledakan cahaya merah yang berada 80,5 km di atas Bumi dan biasanya muncul dalam lebih dari dua kluster.
Saudaranya, Jet biru, merupakan kerucut cahaya biru yang terjadi di bagian atmosfer yang lebih rendah dari Sprite merah. Jet biru yang terjadi bersamaan dengan Sprite merah disebut Elf. Cahaya merah berbentuk panekuk yang tercipta dari petir di bawahnya. Kilatan ini hanya terjadi seperseribu detik dan ilmuwan terus menyelidi apa pemicunya.

Minggu, 09 Oktober 2011

pengertian sedimentasi dan banjir


 LOKASI RAWAN  BANJIR DI JAKARTA

JAKARTA PUSAT
41.
Pesing
1.
Matraman Dalam
42.
Krendang, Duri Utara
2.
Kalipasir Kwitang
43.
Jelambar
3.
Bunderan HI, Kebon Kacang, Teluk Betung
44.
Tomang Rawa Kepa
4.
Pejompongan/AL
45.
Jati Pulo
5.
Jatipinggir
46.
Pinangsia
6.
Mangga Dua
47.
Mangga Besar
7.
Karang Anyar
48.
Tanjung Duren
8.
Serdang
49.
Grogol
9.
Gunung Sahari
50
Sukabumi Utara
10.
Cempaka Putih
51.
Kelapa Dua

52.
Duri Kepa
JAKARTA UTARA

11.
Kapuk Kamal
JAKARTA SELATAN
12.
Kapuk Kamal Sediatmo
53.
IKPN
13.
Pantai Indah Kapuk
54.
Pondok Pinang
14.
Kapuk Muara, Teluk Gong, Muara Angke
55.
Cireundeu Permai
15.
Pluit
56.
Kebalen, Mampang Prapatan
16.
Pademangan Barat
57.
Tegal Parang
17.
Pademangan Timur
58.
Petogogan
18.
Sunter Agung
59.
Pondok Karya
19.
Sunter Jaya
60.
Damai Jaya
20.
Lagoa Buntu
61.
Pulo Raya
21.
Kebon Bawang
62.
Setiabudi Barat
22.
Warakas
63.
Bukit Duri, Kebayoran Baru, Bidara Cina,
Kampung Melayu
23.
Sungai Bambu
64.
Pengadegan, Kalibata, Rawa Jati, Gang Arus
24.
Papanggo
65.
Cipulir, Ciledug Raya
25.
Yos Sudarso

26.
Sunter Timur, Kodamar
JAKARTA TIMUR
27.
Perum Walikota Jakarta Utara
66.
ASMI, Perintis
28.
Kelapa Gading
67.
Pulo Mas
29.
Rawa Badak, Tugu, Lagoa
68.
Pulo Nangka
30.
Tugu Utara
69.
Rawa Bunga
31.
Semper
70.
Kebon Nanas
32.
Dewa Ruci, Dewa Kembar
71.
Cipinang Jaya
33.
Rorotan/Babek ABRI
72.
Cipinang Indah, Cipinang Muara,
Cipinang Melayu

73.
Malaka Selatan, Pondok Kelapa
JAKARTA BARAT
74.
Buluh Perindu, Tegal Amba
34.
Rawa Buaya
75.
Halim Perdanakusuma
35.
Duri Kosambi
76.
Kramat Jati
36.
Tegal Alur
77.
Kampung Rambutan, Ciracas, Cibubur
37.
Kapuk Kedang/Poglar
78.
Ujung Menteng
38.
Cengkareng

39.
Kembangan Green Garden

40.
Meruya

Banjir Jakarta 2007
Banjir Jakarta 2007 adalah bencana banjir yang menghantam Jakarta dan sekitarnya sejak 1 Februari 2007 malam hari. Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-Puncak-Cianjur, dan air laut yang sedang pasang, mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir.
Pantauan di 11 pos pengamatan hujan milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menunjukkan, hujan yang terjadi pada Jumat, 2 Februari, malam lalu mencapai rata-rata 235 mm, bahkan tertinggi di stasiun pengamat Pondok Betung mencapai 340 mm. Hujan rata-rata di Jakarta yang mencapai 235 mm itu sebanding dengan periode ulang hujan 100 tahun dengan probabilitas kejadiannya 20 persen.
Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007. Banjir akibat luapan sungai Citarum yang terjadi awal Februari 2007 telah menggenangi 17.000 hektar sawah di Kabupaten

Penyebab dan Solusi Banjir di Jakarta

Banjir yang melanda Jakarta umumnya disebabkan oleh banjir kiriman dari Bogor atau hujan lokal yang sangat deras dengan waktu lama antara 1-3 hari. Ada pun banjir karena pasang laut boleh dikata agak jarang dan hanya melanda kawasan tertentu di pesisir (Jakarta Utara seperti Rawa Buaya) jika ada tanggul yang jebol. Boleh di kata kawasan banjir Cawang, Kampung Melayu, bahkan jalan tol Cengkareng terlepas dari banjir pasang laut karena posisinya yang lebih tinggi dari permukaan laut.
Banjir karena pasang laut hanya bisa dihindari dengan pengadaan tanggul yang kuat dan menyeluruh tanpa celah sedikit pun bagi air laut masuk ke darat. Meliputi pesisir pantai dan juga pinggiran sungai yang posisinya masih di bawah permukaan laut.
Ada pun banjir karena hujan, jika aliran sungai mengalir lancar dan drainase (kanal buatan) mengalir dengan baik hingga ke laut bisa dicegah. Tapi ini artinya air tawar yang berharga sia-sia terbuang ke laut. Akan lebih baik lagi pemerintah memperdalam sungai, membuat bendungan atau mengambil alih situ/danau yang ada untuk menampung kelebihan air hujan tersebut.
Banjir pada tanggal 1 Februari 2008 yang menggenangi jalan Jenderal Thamrin hingga 1 meter sebenarnya menunjukkan adanya perbaikan kelancaran aliran air dibanding banjir pada bulan Februari 2007 yang menenggelamkan daerah Cawang dan Kampung Melayu antara 3-4 meter. Kenapa? Karena Cawang dan Kampung Melayu posisinya berada di hulu atau lebih tinggi ketimbang jalan Thamrin.
Pada Februari 2007, wilayah hulu ini tenggelam sementara jalan Thamrin kering karena pintu air Manggarai baik yang menuju Banjir Kanal Barat mau pun ke masjid Istiqlal ditutup. Baru setelah Sutiyoso dan Jubir Presiden ribut masalah pembukaan pintu Air Manggarai dan pintunya dibuka, maka banjir di Cawang dan Kampung Melayu surut, sementara Monas dan Istana Negara tenggelam hingga 1 meter. Dua foto yang saya muat di mana Kali Ciliwung di Jatinegara yang merupakan hulu airnya begitu dalam sementara Kali Ciliwung di Matraman yang merupakan hilir justru lebih dangkal hingga dasarnya kelihatan menunjukkan tidak lancarnya pengaturan air di Pintu Air Manggarai.
Pada banjir 2008 ini pintu Air Manggarai yang menuju Banjir Kanal Barat yang melintasi Jalan Sudirman dibuka, sehingga Jalan Thamrin dan Sudirman tergenang air hingga 1 meter. Sebaliknya, wilayah Cawang dan Kampung Melayu sama sekali tidak banjir (kecuali Kampung Pulo yang posisinya sangat rendah). Meski pintu Air Manggarai yang menjurus ke kali Ciliwung (ke Matraman, Istiqlal, dan seterusnya) tidak dibuka, namun ini menunjukkan sedikit perbaikan pada pengaturan pintu air. Padahal kalau dibuka, meski banjir meluas, namun tingginya tentu akan jauh berkurang karena lebih merata.
Penyebab banjir di Cengkareng, terutama pada kilometer 24 dan 25 disebabkan karena aliran air banjir tertahan di tanggul Perumahan Pantai Indah Kapuk. Sementara waduk yang ada tidak cukup luas dan tertutup sehingga tidak mampu menampung air banjir. Padahal jika bisa disalurkan ke drainase Cengkareng, air banjir bisa dialirkan ke laut.
Jika kita amati topografi Jakarta yang secara sederhana digambarkan di sini, umumnya banjir terjadi karena adanya tanggul/bendungan yang menahan aliran air sehingga tidak mengalir ke laut dan menggenang jadi banjir. Di antaranya Pintu Air Manggarai yang menahan air Kali Ciliwung sehingga air menggenangi wilayah Kalibata, Cawang, dan Kampung Melayu. Di utara ada Tanggul Pantai Indah Kapuk yang menahan air banjir dari jalan Tol Cengkareng di kilometer 24 dan 25.
Menggusur perumahan Pantai Indah Kapuk tentu sangat sulit. Namun pemerintah bisa memperbaiki sistem drainase dengan memperdalam waduk yang ada dan mengalirkannya ke kanal yang ada di sekitarnya.
Saat ini pemerintah memperdalam sungai yang ada hanya menggunakan kendaraan darat Excavator. Padahal kendaraan ini selain tidak praktis karena tidak semua pinggiran sungai dapat dilalui juga daya angkutnya kecil.
Sudah saatnya pemerintah membeli kapal keruk ringan untuk memperdalam sungai-sungai yang ada di Jakarta dengan kedalaman minimal 7 meter. Jika sungai cukup dalam dan lebar, maka volume sungai akan berlipat hingga 3 kali lipat sehingga luas/tinggi genang banjir bisa dikurangi.
Foto yang diambil di Matraman disamping Radio SBY menunjukkan Kali Ciliwung yang begitu dangkal airnya sehingga dasar sungai terlihat hingga separuhnya. Dalamnya kurang dari 1 meter dari permukaan tanah sehingga tidak mampu menampung luapan banjir. Pemerintah harus mengeruk dasar kali Ciliwung dari muara hingga ke hulu secara bertahap dengan memakai kapal keruk.
Jika satu Kapal Keruk harganya sekitar Rp 5 milyar dan untuk mengeruk sungai-sungai di Jakarta butuh 5 kapal keruk, maka hanya dibutuhkan biaya sekitar Rp 25 milyar untuk pengadaan Kapal Keruk dan total Rp 50-100 milyar untuk seluruh biaya operasionalnya.
Lebih baik menormalisasi sungai-sungai dan kanal yang ada dengan memelihara agar lebar dan kedalamannya tetap terjaga ketimbang menghamburkan trilyunan rupiah untuk pembangunan Banjir Kanal Timur yang tidak diikuti dengan pemeliharaan sehingga akhirnya menjadi dangkal dan tidak berguna.
Ini jauh lebih murah ketimbang membuat Banjir Kanal Timur yang selain biayanya trilyunan rupiah juga mubazir jika pengaturan pintu airnya seperti sekarang atau kanalnya dangkal lagi jika tidak pernah dikeruk.

Kedepan juga perlu diperhatikan untuk memperluas daerah resapan air. Bukan hanya membuat sumur resapan atau mengganti halaman semen dengan paving block, tapi juga mempertimbangkan penggunaan rumah panggung di wilayah ibu kota. Ketika kecil di Kalimantan Selatan, saya biasa tinggal di rumah panggung. Di bawah rumah ada lumpur. Jika kita lempar pancing ke bawah rumah, kita bisa mendapat ikan. Rumah panggung seperti ini bisa memperluas daerah resapan air. Saya lihat di wilayah Jakarta Selatan ada juga rumah besar yang memakai sistem rumah panggung di mana ikan-ikan bisa hidup di bawahnya.
Ada yang mengusulkan agar Pemda DKI mengambil-alih situ/danau yang tersisa seperti yang ada di daerah Cibubur dan sekitarnya sehingga bisa diperdalam dan diperluas. Danau ini bisa jadi tempat peternakan ikan, pemancingan, wisata perahu dayung dan memancing, serta restoran ikan dengan sistem rumah panggung.
Ada bagusnya jika di beberapa tempat seperti Depok atau daerah langganan banjir yang terparah seperti Kampung Pulo dibuat bendungan yang besar untuk menampung air sekaligus pembangkit tenaga listrik sehingga bukan hanya mencegah banjir, tapi juga memberi energi listrik bertenaga air. Tentu pemerintah harus menyediakan rumah susun (misalnya Rusun Cawang) dan GANTI UNTUNG yang layak bagi penduduk yang digusur.
PENYEBAB BANJIR DI JAKARTA
Berbagai faktor penyebab memburuknya kondisi banjir Jakarta saat itu ialah pertumbuhan permukiman yang tak terkendali disepanjang bantaran sungai, sedimentasi berat serta tidak berfungsinya kanal-kanal dan sistem drainase yang memadai. Hal ini mengakibatkan Jakarta terutama di bantaran sungai menjadi sangat rentan terhadap banjir. Berdasarkan dokumentasi, Kota Jakarta dilanda banjir besar pada tahun 1621, 1654, dan 1918. Selanjutnya banjir besar juga terjadi pada tahun 1976, 1996, 2002, dan 2007.
Banjir Jakarta pada tahun 1996 terjadi pada seluruh penjuru kota serta nebjadi tragedi nasional yang menjadi pusat perhatian. Pada tahun 2002 dan 2007, banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya dengan dampak yang lebih luas dan parah.
Banjir besar Jakarta tahun 1997 rupanya bukan hanya menciptakan tragedi nasional yang tetapi juga menarik perhatian seluruh dunia. Banjir tersebut dilaporkan menggenangi 4 Kelurahan, 745 rumah, serta mengakibatkan 2.640 orang harus mengungsi. Banjir tsb dilaporkan mencapai rata – rata tinggi 80 cm. Pada Tahun 2002 dan 2007 dilaporkan Banjir Jakarta memburuk dengan penambahan luas genangan banjir dan dampak keuangan yang lebih besar. Banjir besar tahun 2002 dilaporkan menggenangi Jakarta, Tangerang dan Bekasi. Banjir tsb dilaporkan membunuh 2 orang dan 40.000 orang pengungsi. Sementara banjir pada 2 – 4 Februari 2007 mempengaruhi 60% dari wilayah Jakarta, yang menyebabkan Jakarta di bawah tanda merah panggung dan menggusur 150.000 orang. Hal ini menunjukkan bahwa dampak banjir memburuk setiap tahun karena faktor-faktor internal dan eksternal.
Penyebab banjir di DKI Jakarta, secara umum terjadi karena dua faktor utama yakni faktor alam dan faktor manusia. Penyebab banjir dari faktor alam antara lain karena lebih dari 40% kawasan di DKI Jakarta berada di bawah muka air laut pasang.  Sehingga Jakarta Utara akan menjadi sangat rentan terhadap banjir saat ini.
Selain itu secara umum topografi wilayah DKI Jakarta yang relatif datar dan 40% wilayah DKI Jakarta berada di dataran banjir Kali Angke, Pesanggrahan, Ciliwung, Cipinang, Sunter, dll. Sungai – sungai ini relatif juga terletak di atas ketinggian kawasan sekitarnya. Karena fungsi sungai – sungai ini tadinya merupakan saluran irigasi pertanian. Sedangkan kondisi saat ini kebanyakan lahan pertanian diubah menjadi perumahan dan lain – lain. Akibatnya  air secara otomatis berkumpul di kawasan cekungan di Jakarta Utara.
Berdasarkan data klimatografi di kawasan DKI Jakarta, intensitas hujan tinggi (2.000 – 4.000 mm setiap tahunnya) dengan durasi yang lama.  Hal ini merupakan sifat umum kawasan tropis lembab serta dampak dari pemanasan global. Curah hujan ini selanjutnya akan menciptakan limpasan air yang deras ketika jatuh di atas daerah tangkapan air (catchment) seluas 850 km2 di hulu Jakarta. Daerah tangkapan ini juga mencakup Cianjur, Bogor, Depok dan DKI Jakarta. Pembangunan besar – besaran di kawasan ini juga menambah debit  limpasan permukaan yang akhirnya juga menambah potensi banjir di kawasan hilir sungai.
Kondisi ini diperparah oleh kecilnya kapasitas tampung sungai saat ini dibanding limpasan (debit) air yang masuk ke Jakarta.  Kapasitas sungai dan saluran makro ini disebabkan karena konversi badan air untuk perumahan, sedimentasi dan pembuangan sampah secara sembarangan. Yang yerakhir pengaruh peningkatan pasang air laut dan penurunan tanah di Jakarta Utara juga menyebabkan daerah Jakarta Utara semakin rentan banjir.
Sedangkan penyebab banjir dari sisi faktor manusia antara lain karena tidak terintegrasinya tata kota dan tata air di Jabodetabekjur, perencanaan tata ruang yang melebihi kapasitas daya dukung lingkungan (di antaranya kurangnya tempat parkir air dan sumber air bersih) serta lemahnya implementasi tata ruang dan tata air di Jabodetabekjur.
Kompetisi dan eksploitasi pemanfaatan  lahan di kawasan Jabodetabekjur yang sedemikian cepat juga membuat konversi besar-besaran badan air dan daerah rawan banjir (sungai, rawa, situ serta sempadannya) menjadi perumahan, kawasan industri, dll.
Selanjutnya hal ini juga mengakibatkan sedimentasi sungai akibat lumpur, sampah organik dan inorganik yang disebabkan oleh pembukaan lahan tersebut. Ketidakjelasan pembagian peran dan tugas Pemerintah, Pemerintah Daerah, swasta dan masyarakat dalam pengoperasian dan pemeliharaan infrastruktur tata air juga menyebabkan memburuknya kondisi banjir yang ada.
Terakhir faktor penyebab manusiawi banjir Jakarta ialah pengambilan air tanah yang berlebihan. Hal ini menyebabkan penurunan tanah semakin ekstrim terutama di Jakarta Utara.

SOLUSI BANJIR DI JAKARTA
Pembuatan kanal banjir timur, bendungan-bendungan dan lain sebagainya memang bagus selain dipercaya sebagai solusi banjir Jakarta, terutama bendungan untuk menjaga keseimbangan ekosistem, namun tentunya dengan bentuk dan tata seni yang indah, sehingga bukan sekedar alat perang antisipasi kepada banjir saja. Karena bentuk bendungan yang pada rencananya hanya sebagai bentuk antisipasi maka bukan tidak mungkin jika itu hanyalah seperti pengobat atau penutup luka saja bagi tubuh, yang bahkan kalau keliru strategi bisa menjadi bom waktu atau ancaman ketika bisa dipolitisir untuk kepentingan tertentu. Juga kondisi tanah yang sulit mencerap air, dan pengerasan tanah pada pemukiman-pemukiman selain hanya beralasan untuk kebersihan, namun adalah juga penyumbang banjir dan ketidakseimbangan ekosistem yang seharusnya menjadi titik berat konservasi lingkungan hidup.
Sebuah buah pikir sederhana untuk solusi banjir Jakarta di sini, adalah mencermati infra struktur yang sudah eksisting dan mencerna sumber serta arah air penyebab banjir yang utama, diselaraskan dengan faktor-faktor penghindar chaos dan kemapanan yang sudah ada, karena akan sulit ketika menata kota Jakarta kembali dari nol, dan bahkan tidak mungkin. Maka solusi banjir Jakarta seharusnya dimulai dari kota diatasnya yaitu kota Bogor. Struktur jalan tol adalah solusi banjir yang belum pernah terpikirkan, bagaimanapun cara terbaik sebagai soulusi mengatasi banjir di Jakarta adalah dengan mem-by pass aliran air dari atas langsung ke laut tanpa harus berdemo dan bermacet ria tanpa polisi lalu lintas di ibukota Jakarta, karena sangat tidak logis jika membuat payung sebesar kota Jakarta, meskipun bisa toh aliran air yang besar dari atas tak sanggup untuk terbendungkan.
Pembuatan talang air diatas jalan tol dan menggunakan jalan tol sebagai alurnya, diletakkan di atas jalan tol, dengan lebar dan ketinggian yang disesuaikan dengan arus air, di kota Bogor jelas talang harus lebih besar, lebar dan tinggi mengingat curah air yang banyak dan letaknya lebih tinggi. Talang air yang berada di atas jalan tol harus dijaga ketat hingga sampai ke laut. Berbagai titik bertemunya arus air harus ditandai dan difasilitasi dengan talang, memang biayanya mahal, namun dengan talang air ini tidak akan mengubah dan mengganggu kepemilikan tanah penduduk atau warga, tidak perlu menambahkan lagi upaya yang tidak perlu seperti bendungan-bendungan besar, dan mengeruk sungai hingga dalam, karena akan sangat lebih berbahaya, terlebih dengan hobi warga membuang sampah sekenanya, sebagaimana para punggawanya yang nyerocos saja tanpa solusi.
Talang air dengan menggunakan wahana jalan tol ataupun talang diatas jalan akan merupakan solusi banjir yang indah, karena tangkapan hujan demi keseimbangan ekosistem di Jakarta masih tidak terganggu, meski tidak menutup kemungkinan apabila ada curah hujan berlebih, maka generator untuk menaikan air ke talang harus menjadi add-on yang patut dipertimbangkan. Sungai atau talang yang berada diatas harus dijaga kebersihannya, dan akan sangat aman karena berada diatas jangkauan untuk membuang sampah, terkecuali memang ada niat jahat untuk melakukannnya.
 http://suryaden.com/content/solusi-banjir-jakarta
DEFINISI-DEFINISI SEDIMENTASI
Endapan sedimen (sedimentary deposit) adalah tubuh material padat yang terakumulasi di permukaan bumi atau di dekat permukaan bumi, pada kondisi tekanan dan temperatur yang rendah. Sedimen umumnya (namun tidak selalu) diendapkan dari fluida dimana material penyusun sedimen itu sebelumnya berada, baik sebagai larutan maupun sebagai suspensi. Definisi ini sebenarnya tidak dapat diterapkan untuk semua jenis batuan sedimen karena ada beberapa jenis endapan yang telah disepakati oleh para ahli sebagai endapan sedimen: (1) diendapkan dari udara sebagai benda padat di bawah temperatur yang relatif tinggi, misalnya material fragmental yang dilepaskan dari gunungapi; (2) diendapkan di bawah tekanan yang relatif tinggi, misalnya endapan lantai laut-dalam.
Petrologi sedimen (sedimentary petrology) adalah cabang petrologi yang membahas batuan sedimen, terutama pemerian-nya. Di Amerika Serikat, istilah sedimentasi (sedimentation) umumnya digunakan untuk menamakan ilmu yang mempelajari proses pengakumulasian sedimen, khususnya endapan yang asalnya merupakan partikel-partikel padat dalam suatu fluida. Pada 1932, Wadell mengusulkan istilah sedimentologi (sedimentology) untuk menamakan ilmu yang mempelajari segala aspek sedimen dan batuan sedimen. Sedimentologi dipandang memiliki ruang lingkup yang lebih luas daripada petrologi sedimen karena petrologi sedimen biasanya terbatas pada studi laboratorium, khususnya studi sayatan tipis, sedangkan sedimentologi meliputi studi lapangan dan laboratorium (Vatan, 1954:3-8). Pemakaian istilah sedimentologi untuk menamakan ilmu yang mempelajari semua aspek sedimen dan batuan sedimen disepakati oleh para ahli sedimentologi Eropa, bahkan akhirnya dikukuhkan sebagai istilah resmi secara internasional bersamaan dengan didirikannya International Association of Sedimentologists pada 1946.
Batas pemisah antara sedimentologi dengan stratigrafi sebenarnya tidak jelas. Stratigrafi secara luas diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang segala aspek strata, termasuk studi tekstur, struktur, dan komposisi. Walau demikian, dalam prakteknya, para ahli stratigrafi lebih banyak menujukan perhatiannya pada masalah penentuan urut-urutan stratigrafi dan penyusunan kolom geologi. Jadi, masalah sentral dalam stratigrafi adalah penentuan urut-urutan batuan dan waktu yang dicerminkan oleh berbagai penampang lokal, pengkorelasian penampang-penampang lokal, dan penyusunan suatu penampang yang dapat digunakan secara sahih sebagai wakil dari tatanan stratigrafi dunia. Walau demikian, pengukuran ketebalan dan pemerian litologi umum (gross lithology) masih dipandang sebagai tugas para ahli stratigrafi. Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak pengetahuan tentang ciri khas endapan sedimen—misalnya perlapisan, perlapisan silang-siur, dan ciri-ciri lain yang sering terlihat dalam singkapan—diperoleh dari hasil penelitian stratigrafi.
FAKTOR PENYEBAB SEDIMENTASI
Penutupan mulut muara
Penutupan mulut muara terutama terjadi dimusim kemarau akibat angkutan sedimen/pasir menyusur pantai yang tidak dapat terbilas oleh aliran debit sungai yang kecil. Pada saat debit sungai besar yaitu dimusim penghujan, maka mulut sungai terbuka. Pada muara sungai yang dipergunakan untuk lalu lintas nelayan keluar masuknya perahu ke lokasi pendaratan ikan tidak mengalami kesulitan. Pada saat debit kecil, di mulut muara terbentuk fomasi ambang. Perahu mengalami kesulitan untuk keluar masuk. Pada sungai-sungai yang dipergunakan untuk lalu-lintas nelayan, maka penutupan mulut muara mengganggu lalu-lntas nelayan, sementara pada muara sungai yang berfungsi sebagai alur pembuang dapat menyebabkan banjir.
Pendangkalan                                                              
Pendangkalan muara sungai terjadi dari mulut sampai pengaruh pasang surut/intrusi air asin masih ada, terutama diakibatkan oleh adanya flokulasi/ penggumpalan sedimen pada pertemuan air asin dan air tawar.
Pada Gambar 1 disajikan proses penutupan mulut muara yang menyulitkan lalu lintas perahu nelayan.

Penanganan Bencana Sedimen

Kegiatan Penanganan Bencana Sedimen berlokasi di Maguwoharjo, Yogykarta. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menjalankan amanat UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR khususnya terkait dengan Daya Rusak Air. Kegiatan Penanganan Bencana Sedimen merupakan institusi yang berada pada Kementerian Pekerjaan Umum di bawah Direktorat Sungai Pantai, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Pada awal berdiri difokuskan pada pengendalian Gunung Merapi, selanjutnya berkembang pada teknik SABO pada area vuklkanik, tahap berikutnya mengembangkan Teknik SABO pada Area Non Vulkanik dan saat ini dikarenakan situasi dan kondisi kebencanaan di Indonesia yang semakin komplek mak dikembang teknik, aplikasi dan sistem penanganan Bencana Sedimen.

Ruang Lingkup Penanganan Bencana Sedimen

  • Aspek Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air yang mengakibatkan timbulnya Bencana Sedimen.
  • Aspek Pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air yang mengakibatkan timbulnya Bencana Sedimen.
  • Aspek Rencana pengelolaan sumber daya air adalah hasil perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan sumber daya air sehingga dapat dilakukan tindakan dalam rangka pengendalian daya rusak air yang mengakibatkan timbulnya Bencana Sedimen.
  • Aspek Pengendalian daya rusak air adalah upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air yang mengakibatkan timbulnya Bencana Sedimen.

Aktivitas yang dilakasanakan pada Kegiatan Penanganan Bencana Sedimen (SABO TECHNICAL CENTRE)

  • Pengendalian daya rusak air
    Merupakan upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air, khususnya yang berkaitan dengan Bencana Sedimen.
  • Pencegahan Bencana Sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana sedimen maupun kerentanan pihak yang terancam bencana sedimen.
  • Mitigasi Bencana sedimen
    Merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana sedimen, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana sedimen.
  • Peringatan dini terhadap Bencana Sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin baik berupa sarana teknis maupun non teknis kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana sedimen pada suatu tempat.
  • Kesiapsiagaan Bencana sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana sedimen melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
  • Tanggap darurat Bencana Sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana sedimen untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
  • Menjalin kerjasama dan koordinasi
    Merupakan suatu kegiatan, tindakan dan upaya dalam rangka memperluas hubungan dengan lembaga-lembaga dan institusi di dalam dan di luar negeri dalam rangka penanganan potensi dan dampak Bencana Sedimen.
  • Pemulihan Daerah Terdampak Bencana Sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana sedimen dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi.
  • Rehabilitasi Daerah Terdampak Bencana Sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana sedimen dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah Pasca Bencana sedimen.
  • Rekonstruksi Daerah Terdampak Bencana Sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana sedimen, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah Pasca Bencana sedimen .

Penanganan dan Penanggulangan Bencana Sedimen
Merupakan suatu kegiatan yang besifat penyebaran ilmu dalam hal penanganan masalah Bencana Sedimen kepada semua pihak. Problem erosi di Indonesia sudah mencapai tahap kritis. Bagaimana tidak?. Lihat saja kondisi sedimentasi di sungai Citandui yang mencapai 5 juta m2 kubik. Rekor tertinggi dibanding sungai-sungai lainnya namun juga masih dengan kisaran angka yang tinggi. Jadi, jangan berharap untuk melihat kebeningan sungai ataupun pantai, apalagi di kawasan pulau Jawa. 
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Sub Direktorat Pengendalian Pencenmaran Laut, Departemen Kelautan dan Perikanan, Subandono Diposantono, sebagaimana ditulis Media Indonesia. 
Akibat sedimentasi ini merupakan salah satu penyebab terjadinya erosi di pantai-pantai. Sedimentasi bahkan semakin tahun semakin meningkat. Hal ini menyebabkan beberapa muara sungai di Sumatra, Kalimantan dan Jawa menjadi dangkal. 
Sungai Citandui, Jawa Barat memecahkan rekor dengan sedimentasi pertahun yang terbawa aliran sungai ini mencapai 5 juta m2 kubik. Sementara, sungai Cikonde mencapai 770 ribu meter kubik yang diendapkan di Segara Anakan. 
Sedimentasi sungai Barito mencapai mencapai 733 ribu m2 kubik yang diendapkan di pelabuhan pelabuhan Banjarmasin, Kalimantan. Sedang sungai Mahakam, Kalimantan sedimentasinya mencapai 2,2 juta m2 kubik. 
Tinnginya sedimentasi ini mengakibatkan upaya pengerukan di pantai-pantai, terutama yang berfungsi untuk pelabuhan jadi membutuhkan dana besar. 
Contohnya, pengerukan di pelabuhan Tanjung Perak , Surabaya sampai sepanjang 25.000 meter, pelabuhan Belawan, Medan mencapai 13.500 meter, Palembang 28.000 meter, Banjarmasin 15.000 meter, Samarinda 20.000 meter, Pontianak 11.250 meter, Jambi 17.000 meter, Sampit 27.000 meter dan pelabuhan Pulai Pisa 19.000 meter. 
Akibat sedimentasi yang tinggi di sungai-sungai di Indonesia ini disamping juga adanya erosi, tak kurang dari 124 pantai di Indonesia akhirnya mengalami kerusakan. 
Pantai di Aceh, contohnya tak kurang dari 34 pantainya mengalami kerusakan. Selain karena sedimentasi, juga karena adanya pemukiman, pariwisata dan pembukaan tambak. Di Jawa Barat, pantai yang mengalami erosi mencapai 28 pantai. Sedang DKI Jakarta, tak kurang 8 pantai yang mengalami erosi. 
Memang, erosi pantai tak semata-mata karena sedimentasi. Namun, sedimentasi sungai mempunyai pengaruh besar terhadap erosi pantai. Keadaan ini sebenarnya amat memprihatinkan. Sayang, pemerintah kita kurang peduli terhadap peristiwa ini. Pemda DKI saja sanggup untuk merenovasi Patung “Selamat datang” di bundaran HI dalam rangka menyambut HUT DKI bulan ini dengan biaya tak kurang dari 14 miliar. Namun, sayang tak ada dana untuk mejernihkan sungai Ciliwung yang coklat kelam ataupun kanal-kanal lainnya di pinggiran Jakarta yang tak lagi cokelat, tapi telah hitam kelam , bahkan. Mungkin bau tak sedap Ciliwung tak sempat terhirup para pejabat, hingga kurang dirasa perlu untuk membuatnya jernih kembali.


 LOKASI RAWAN  BANJIR DI JAKARTA

JAKARTA PUSAT
41.
Pesing
1.
Matraman Dalam
42.
Krendang, Duri Utara
2.
Kalipasir Kwitang
43.
Jelambar
3.
Bunderan HI, Kebon Kacang, Teluk Betung
44.
Tomang Rawa Kepa
4.
Pejompongan/AL
45.
Jati Pulo
5.
Jatipinggir
46.
Pinangsia
6.
Mangga Dua
47.
Mangga Besar
7.
Karang Anyar
48.
Tanjung Duren
8.
Serdang
49.
Grogol
9.
Gunung Sahari
50
Sukabumi Utara
10.
Cempaka Putih
51.
Kelapa Dua

52.
Duri Kepa
JAKARTA UTARA

11.
Kapuk Kamal
JAKARTA SELATAN
12.
Kapuk Kamal Sediatmo
53.
IKPN
13.
Pantai Indah Kapuk
54.
Pondok Pinang
14.
Kapuk Muara, Teluk Gong, Muara Angke
55.
Cireundeu Permai
15.
Pluit
56.
Kebalen, Mampang Prapatan
16.
Pademangan Barat
57.
Tegal Parang
17.
Pademangan Timur
58.
Petogogan
18.
Sunter Agung
59.
Pondok Karya
19.
Sunter Jaya
60.
Damai Jaya
20.
Lagoa Buntu
61.
Pulo Raya
21.
Kebon Bawang
62.
Setiabudi Barat
22.
Warakas
63.
Bukit Duri, Kebayoran Baru, Bidara Cina,
Kampung Melayu
23.
Sungai Bambu
64.
Pengadegan, Kalibata, Rawa Jati, Gang Arus
24.
Papanggo
65.
Cipulir, Ciledug Raya
25.
Yos Sudarso

26.
Sunter Timur, Kodamar
JAKARTA TIMUR
27.
Perum Walikota Jakarta Utara
66.
ASMI, Perintis
28.
Kelapa Gading
67.
Pulo Mas
29.
Rawa Badak, Tugu, Lagoa
68.
Pulo Nangka
30.
Tugu Utara
69.
Rawa Bunga
31.
Semper
70.
Kebon Nanas
32.
Dewa Ruci, Dewa Kembar
71.
Cipinang Jaya
33.
Rorotan/Babek ABRI
72.
Cipinang Indah, Cipinang Muara,
Cipinang Melayu

73.
Malaka Selatan, Pondok Kelapa
JAKARTA BARAT
74.
Buluh Perindu, Tegal Amba
34.
Rawa Buaya
75.
Halim Perdanakusuma
35.
Duri Kosambi
76.
Kramat Jati
36.
Tegal Alur
77.
Kampung Rambutan, Ciracas, Cibubur
37.
Kapuk Kedang/Poglar
78.
Ujung Menteng
38.
Cengkareng

39.
Kembangan Green Garden

40.
Meruya

Banjir Jakarta 2007
Banjir Jakarta 2007 adalah bencana banjir yang menghantam Jakarta dan sekitarnya sejak 1 Februari 2007 malam hari. Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-Puncak-Cianjur, dan air laut yang sedang pasang, mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir.
Pantauan di 11 pos pengamatan hujan milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menunjukkan, hujan yang terjadi pada Jumat, 2 Februari, malam lalu mencapai rata-rata 235 mm, bahkan tertinggi di stasiun pengamat Pondok Betung mencapai 340 mm. Hujan rata-rata di Jakarta yang mencapai 235 mm itu sebanding dengan periode ulang hujan 100 tahun dengan probabilitas kejadiannya 20 persen.
Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007. Banjir akibat luapan sungai Citarum yang terjadi awal Februari 2007 telah menggenangi 17.000 hektar sawah di Kabupaten

Penyebab dan Solusi Banjir di Jakarta

Banjir yang melanda Jakarta umumnya disebabkan oleh banjir kiriman dari Bogor atau hujan lokal yang sangat deras dengan waktu lama antara 1-3 hari. Ada pun banjir karena pasang laut boleh dikata agak jarang dan hanya melanda kawasan tertentu di pesisir (Jakarta Utara seperti Rawa Buaya) jika ada tanggul yang jebol. Boleh di kata kawasan banjir Cawang, Kampung Melayu, bahkan jalan tol Cengkareng terlepas dari banjir pasang laut karena posisinya yang lebih tinggi dari permukaan laut.
Banjir karena pasang laut hanya bisa dihindari dengan pengadaan tanggul yang kuat dan menyeluruh tanpa celah sedikit pun bagi air laut masuk ke darat. Meliputi pesisir pantai dan juga pinggiran sungai yang posisinya masih di bawah permukaan laut.
Ada pun banjir karena hujan, jika aliran sungai mengalir lancar dan drainase (kanal buatan) mengalir dengan baik hingga ke laut bisa dicegah. Tapi ini artinya air tawar yang berharga sia-sia terbuang ke laut. Akan lebih baik lagi pemerintah memperdalam sungai, membuat bendungan atau mengambil alih situ/danau yang ada untuk menampung kelebihan air hujan tersebut.
Banjir pada tanggal 1 Februari 2008 yang menggenangi jalan Jenderal Thamrin hingga 1 meter sebenarnya menunjukkan adanya perbaikan kelancaran aliran air dibanding banjir pada bulan Februari 2007 yang menenggelamkan daerah Cawang dan Kampung Melayu antara 3-4 meter. Kenapa? Karena Cawang dan Kampung Melayu posisinya berada di hulu atau lebih tinggi ketimbang jalan Thamrin.
Pada Februari 2007, wilayah hulu ini tenggelam sementara jalan Thamrin kering karena pintu air Manggarai baik yang menuju Banjir Kanal Barat mau pun ke masjid Istiqlal ditutup. Baru setelah Sutiyoso dan Jubir Presiden ribut masalah pembukaan pintu Air Manggarai dan pintunya dibuka, maka banjir di Cawang dan Kampung Melayu surut, sementara Monas dan Istana Negara tenggelam hingga 1 meter. Dua foto yang saya muat di mana Kali Ciliwung di Jatinegara yang merupakan hulu airnya begitu dalam sementara Kali Ciliwung di Matraman yang merupakan hilir justru lebih dangkal hingga dasarnya kelihatan menunjukkan tidak lancarnya pengaturan air di Pintu Air Manggarai.
Pada banjir 2008 ini pintu Air Manggarai yang menuju Banjir Kanal Barat yang melintasi Jalan Sudirman dibuka, sehingga Jalan Thamrin dan Sudirman tergenang air hingga 1 meter. Sebaliknya, wilayah Cawang dan Kampung Melayu sama sekali tidak banjir (kecuali Kampung Pulo yang posisinya sangat rendah). Meski pintu Air Manggarai yang menjurus ke kali Ciliwung (ke Matraman, Istiqlal, dan seterusnya) tidak dibuka, namun ini menunjukkan sedikit perbaikan pada pengaturan pintu air. Padahal kalau dibuka, meski banjir meluas, namun tingginya tentu akan jauh berkurang karena lebih merata.
Penyebab banjir di Cengkareng, terutama pada kilometer 24 dan 25 disebabkan karena aliran air banjir tertahan di tanggul Perumahan Pantai Indah Kapuk. Sementara waduk yang ada tidak cukup luas dan tertutup sehingga tidak mampu menampung air banjir. Padahal jika bisa disalurkan ke drainase Cengkareng, air banjir bisa dialirkan ke laut.
Jika kita amati topografi Jakarta yang secara sederhana digambarkan di sini, umumnya banjir terjadi karena adanya tanggul/bendungan yang menahan aliran air sehingga tidak mengalir ke laut dan menggenang jadi banjir. Di antaranya Pintu Air Manggarai yang menahan air Kali Ciliwung sehingga air menggenangi wilayah Kalibata, Cawang, dan Kampung Melayu. Di utara ada Tanggul Pantai Indah Kapuk yang menahan air banjir dari jalan Tol Cengkareng di kilometer 24 dan 25.
Menggusur perumahan Pantai Indah Kapuk tentu sangat sulit. Namun pemerintah bisa memperbaiki sistem drainase dengan memperdalam waduk yang ada dan mengalirkannya ke kanal yang ada di sekitarnya.
Saat ini pemerintah memperdalam sungai yang ada hanya menggunakan kendaraan darat Excavator. Padahal kendaraan ini selain tidak praktis karena tidak semua pinggiran sungai dapat dilalui juga daya angkutnya kecil.
Sudah saatnya pemerintah membeli kapal keruk ringan untuk memperdalam sungai-sungai yang ada di Jakarta dengan kedalaman minimal 7 meter. Jika sungai cukup dalam dan lebar, maka volume sungai akan berlipat hingga 3 kali lipat sehingga luas/tinggi genang banjir bisa dikurangi.
Foto yang diambil di Matraman disamping Radio SBY menunjukkan Kali Ciliwung yang begitu dangkal airnya sehingga dasar sungai terlihat hingga separuhnya. Dalamnya kurang dari 1 meter dari permukaan tanah sehingga tidak mampu menampung luapan banjir. Pemerintah harus mengeruk dasar kali Ciliwung dari muara hingga ke hulu secara bertahap dengan memakai kapal keruk.
Jika satu Kapal Keruk harganya sekitar Rp 5 milyar dan untuk mengeruk sungai-sungai di Jakarta butuh 5 kapal keruk, maka hanya dibutuhkan biaya sekitar Rp 25 milyar untuk pengadaan Kapal Keruk dan total Rp 50-100 milyar untuk seluruh biaya operasionalnya.
Lebih baik menormalisasi sungai-sungai dan kanal yang ada dengan memelihara agar lebar dan kedalamannya tetap terjaga ketimbang menghamburkan trilyunan rupiah untuk pembangunan Banjir Kanal Timur yang tidak diikuti dengan pemeliharaan sehingga akhirnya menjadi dangkal dan tidak berguna.
Ini jauh lebih murah ketimbang membuat Banjir Kanal Timur yang selain biayanya trilyunan rupiah juga mubazir jika pengaturan pintu airnya seperti sekarang atau kanalnya dangkal lagi jika tidak pernah dikeruk.

Kedepan juga perlu diperhatikan untuk memperluas daerah resapan air. Bukan hanya membuat sumur resapan atau mengganti halaman semen dengan paving block, tapi juga mempertimbangkan penggunaan rumah panggung di wilayah ibu kota. Ketika kecil di Kalimantan Selatan, saya biasa tinggal di rumah panggung. Di bawah rumah ada lumpur. Jika kita lempar pancing ke bawah rumah, kita bisa mendapat ikan. Rumah panggung seperti ini bisa memperluas daerah resapan air. Saya lihat di wilayah Jakarta Selatan ada juga rumah besar yang memakai sistem rumah panggung di mana ikan-ikan bisa hidup di bawahnya.
Ada yang mengusulkan agar Pemda DKI mengambil-alih situ/danau yang tersisa seperti yang ada di daerah Cibubur dan sekitarnya sehingga bisa diperdalam dan diperluas. Danau ini bisa jadi tempat peternakan ikan, pemancingan, wisata perahu dayung dan memancing, serta restoran ikan dengan sistem rumah panggung.
Ada bagusnya jika di beberapa tempat seperti Depok atau daerah langganan banjir yang terparah seperti Kampung Pulo dibuat bendungan yang besar untuk menampung air sekaligus pembangkit tenaga listrik sehingga bukan hanya mencegah banjir, tapi juga memberi energi listrik bertenaga air. Tentu pemerintah harus menyediakan rumah susun (misalnya Rusun Cawang) dan GANTI UNTUNG yang layak bagi penduduk yang digusur.
PENYEBAB BANJIR DI JAKARTA
Berbagai faktor penyebab memburuknya kondisi banjir Jakarta saat itu ialah pertumbuhan permukiman yang tak terkendali disepanjang bantaran sungai, sedimentasi berat serta tidak berfungsinya kanal-kanal dan sistem drainase yang memadai. Hal ini mengakibatkan Jakarta terutama di bantaran sungai menjadi sangat rentan terhadap banjir. Berdasarkan dokumentasi, Kota Jakarta dilanda banjir besar pada tahun 1621, 1654, dan 1918. Selanjutnya banjir besar juga terjadi pada tahun 1976, 1996, 2002, dan 2007.
Banjir Jakarta pada tahun 1996 terjadi pada seluruh penjuru kota serta nebjadi tragedi nasional yang menjadi pusat perhatian. Pada tahun 2002 dan 2007, banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya dengan dampak yang lebih luas dan parah.
Banjir besar Jakarta tahun 1997 rupanya bukan hanya menciptakan tragedi nasional yang tetapi juga menarik perhatian seluruh dunia. Banjir tersebut dilaporkan menggenangi 4 Kelurahan, 745 rumah, serta mengakibatkan 2.640 orang harus mengungsi. Banjir tsb dilaporkan mencapai rata – rata tinggi 80 cm. Pada Tahun 2002 dan 2007 dilaporkan Banjir Jakarta memburuk dengan penambahan luas genangan banjir dan dampak keuangan yang lebih besar. Banjir besar tahun 2002 dilaporkan menggenangi Jakarta, Tangerang dan Bekasi. Banjir tsb dilaporkan membunuh 2 orang dan 40.000 orang pengungsi. Sementara banjir pada 2 – 4 Februari 2007 mempengaruhi 60% dari wilayah Jakarta, yang menyebabkan Jakarta di bawah tanda merah panggung dan menggusur 150.000 orang. Hal ini menunjukkan bahwa dampak banjir memburuk setiap tahun karena faktor-faktor internal dan eksternal.
Penyebab banjir di DKI Jakarta, secara umum terjadi karena dua faktor utama yakni faktor alam dan faktor manusia. Penyebab banjir dari faktor alam antara lain karena lebih dari 40% kawasan di DKI Jakarta berada di bawah muka air laut pasang.  Sehingga Jakarta Utara akan menjadi sangat rentan terhadap banjir saat ini.
Selain itu secara umum topografi wilayah DKI Jakarta yang relatif datar dan 40% wilayah DKI Jakarta berada di dataran banjir Kali Angke, Pesanggrahan, Ciliwung, Cipinang, Sunter, dll. Sungai – sungai ini relatif juga terletak di atas ketinggian kawasan sekitarnya. Karena fungsi sungai – sungai ini tadinya merupakan saluran irigasi pertanian. Sedangkan kondisi saat ini kebanyakan lahan pertanian diubah menjadi perumahan dan lain – lain. Akibatnya  air secara otomatis berkumpul di kawasan cekungan di Jakarta Utara.
Berdasarkan data klimatografi di kawasan DKI Jakarta, intensitas hujan tinggi (2.000 – 4.000 mm setiap tahunnya) dengan durasi yang lama.  Hal ini merupakan sifat umum kawasan tropis lembab serta dampak dari pemanasan global. Curah hujan ini selanjutnya akan menciptakan limpasan air yang deras ketika jatuh di atas daerah tangkapan air (catchment) seluas 850 km2 di hulu Jakarta. Daerah tangkapan ini juga mencakup Cianjur, Bogor, Depok dan DKI Jakarta. Pembangunan besar – besaran di kawasan ini juga menambah debit  limpasan permukaan yang akhirnya juga menambah potensi banjir di kawasan hilir sungai.
Kondisi ini diperparah oleh kecilnya kapasitas tampung sungai saat ini dibanding limpasan (debit) air yang masuk ke Jakarta.  Kapasitas sungai dan saluran makro ini disebabkan karena konversi badan air untuk perumahan, sedimentasi dan pembuangan sampah secara sembarangan. Yang yerakhir pengaruh peningkatan pasang air laut dan penurunan tanah di Jakarta Utara juga menyebabkan daerah Jakarta Utara semakin rentan banjir.
Sedangkan penyebab banjir dari sisi faktor manusia antara lain karena tidak terintegrasinya tata kota dan tata air di Jabodetabekjur, perencanaan tata ruang yang melebihi kapasitas daya dukung lingkungan (di antaranya kurangnya tempat parkir air dan sumber air bersih) serta lemahnya implementasi tata ruang dan tata air di Jabodetabekjur.
Kompetisi dan eksploitasi pemanfaatan  lahan di kawasan Jabodetabekjur yang sedemikian cepat juga membuat konversi besar-besaran badan air dan daerah rawan banjir (sungai, rawa, situ serta sempadannya) menjadi perumahan, kawasan industri, dll.
Selanjutnya hal ini juga mengakibatkan sedimentasi sungai akibat lumpur, sampah organik dan inorganik yang disebabkan oleh pembukaan lahan tersebut. Ketidakjelasan pembagian peran dan tugas Pemerintah, Pemerintah Daerah, swasta dan masyarakat dalam pengoperasian dan pemeliharaan infrastruktur tata air juga menyebabkan memburuknya kondisi banjir yang ada.
Terakhir faktor penyebab manusiawi banjir Jakarta ialah pengambilan air tanah yang berlebihan. Hal ini menyebabkan penurunan tanah semakin ekstrim terutama di Jakarta Utara.

SOLUSI BANJIR DI JAKARTA
Pembuatan kanal banjir timur, bendungan-bendungan dan lain sebagainya memang bagus selain dipercaya sebagai solusi banjir Jakarta, terutama bendungan untuk menjaga keseimbangan ekosistem, namun tentunya dengan bentuk dan tata seni yang indah, sehingga bukan sekedar alat perang antisipasi kepada banjir saja. Karena bentuk bendungan yang pada rencananya hanya sebagai bentuk antisipasi maka bukan tidak mungkin jika itu hanyalah seperti pengobat atau penutup luka saja bagi tubuh, yang bahkan kalau keliru strategi bisa menjadi bom waktu atau ancaman ketika bisa dipolitisir untuk kepentingan tertentu. Juga kondisi tanah yang sulit mencerap air, dan pengerasan tanah pada pemukiman-pemukiman selain hanya beralasan untuk kebersihan, namun adalah juga penyumbang banjir dan ketidakseimbangan ekosistem yang seharusnya menjadi titik berat konservasi lingkungan hidup.
Sebuah buah pikir sederhana untuk solusi banjir Jakarta di sini, adalah mencermati infra struktur yang sudah eksisting dan mencerna sumber serta arah air penyebab banjir yang utama, diselaraskan dengan faktor-faktor penghindar chaos dan kemapanan yang sudah ada, karena akan sulit ketika menata kota Jakarta kembali dari nol, dan bahkan tidak mungkin. Maka solusi banjir Jakarta seharusnya dimulai dari kota diatasnya yaitu kota Bogor. Struktur jalan tol adalah solusi banjir yang belum pernah terpikirkan, bagaimanapun cara terbaik sebagai soulusi mengatasi banjir di Jakarta adalah dengan mem-by pass aliran air dari atas langsung ke laut tanpa harus berdemo dan bermacet ria tanpa polisi lalu lintas di ibukota Jakarta, karena sangat tidak logis jika membuat payung sebesar kota Jakarta, meskipun bisa toh aliran air yang besar dari atas tak sanggup untuk terbendungkan.
Pembuatan talang air diatas jalan tol dan menggunakan jalan tol sebagai alurnya, diletakkan di atas jalan tol, dengan lebar dan ketinggian yang disesuaikan dengan arus air, di kota Bogor jelas talang harus lebih besar, lebar dan tinggi mengingat curah air yang banyak dan letaknya lebih tinggi. Talang air yang berada di atas jalan tol harus dijaga ketat hingga sampai ke laut. Berbagai titik bertemunya arus air harus ditandai dan difasilitasi dengan talang, memang biayanya mahal, namun dengan talang air ini tidak akan mengubah dan mengganggu kepemilikan tanah penduduk atau warga, tidak perlu menambahkan lagi upaya yang tidak perlu seperti bendungan-bendungan besar, dan mengeruk sungai hingga dalam, karena akan sangat lebih berbahaya, terlebih dengan hobi warga membuang sampah sekenanya, sebagaimana para punggawanya yang nyerocos saja tanpa solusi.
Talang air dengan menggunakan wahana jalan tol ataupun talang diatas jalan akan merupakan solusi banjir yang indah, karena tangkapan hujan demi keseimbangan ekosistem di Jakarta masih tidak terganggu, meski tidak menutup kemungkinan apabila ada curah hujan berlebih, maka generator untuk menaikan air ke talang harus menjadi add-on yang patut dipertimbangkan. Sungai atau talang yang berada diatas harus dijaga kebersihannya, dan akan sangat aman karena berada diatas jangkauan untuk membuang sampah, terkecuali memang ada niat jahat untuk melakukannnya.
 http://suryaden.com/content/solusi-banjir-jakarta
DEFINISI-DEFINISI SEDIMENTASI
Endapan sedimen (sedimentary deposit) adalah tubuh material padat yang terakumulasi di permukaan bumi atau di dekat permukaan bumi, pada kondisi tekanan dan temperatur yang rendah. Sedimen umumnya (namun tidak selalu) diendapkan dari fluida dimana material penyusun sedimen itu sebelumnya berada, baik sebagai larutan maupun sebagai suspensi. Definisi ini sebenarnya tidak dapat diterapkan untuk semua jenis batuan sedimen karena ada beberapa jenis endapan yang telah disepakati oleh para ahli sebagai endapan sedimen: (1) diendapkan dari udara sebagai benda padat di bawah temperatur yang relatif tinggi, misalnya material fragmental yang dilepaskan dari gunungapi; (2) diendapkan di bawah tekanan yang relatif tinggi, misalnya endapan lantai laut-dalam.
Petrologi sedimen (sedimentary petrology) adalah cabang petrologi yang membahas batuan sedimen, terutama pemerian-nya. Di Amerika Serikat, istilah sedimentasi (sedimentation) umumnya digunakan untuk menamakan ilmu yang mempelajari proses pengakumulasian sedimen, khususnya endapan yang asalnya merupakan partikel-partikel padat dalam suatu fluida. Pada 1932, Wadell mengusulkan istilah sedimentologi (sedimentology) untuk menamakan ilmu yang mempelajari segala aspek sedimen dan batuan sedimen. Sedimentologi dipandang memiliki ruang lingkup yang lebih luas daripada petrologi sedimen karena petrologi sedimen biasanya terbatas pada studi laboratorium, khususnya studi sayatan tipis, sedangkan sedimentologi meliputi studi lapangan dan laboratorium (Vatan, 1954:3-8). Pemakaian istilah sedimentologi untuk menamakan ilmu yang mempelajari semua aspek sedimen dan batuan sedimen disepakati oleh para ahli sedimentologi Eropa, bahkan akhirnya dikukuhkan sebagai istilah resmi secara internasional bersamaan dengan didirikannya International Association of Sedimentologists pada 1946.
Batas pemisah antara sedimentologi dengan stratigrafi sebenarnya tidak jelas. Stratigrafi secara luas diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang segala aspek strata, termasuk studi tekstur, struktur, dan komposisi. Walau demikian, dalam prakteknya, para ahli stratigrafi lebih banyak menujukan perhatiannya pada masalah penentuan urut-urutan stratigrafi dan penyusunan kolom geologi. Jadi, masalah sentral dalam stratigrafi adalah penentuan urut-urutan batuan dan waktu yang dicerminkan oleh berbagai penampang lokal, pengkorelasian penampang-penampang lokal, dan penyusunan suatu penampang yang dapat digunakan secara sahih sebagai wakil dari tatanan stratigrafi dunia. Walau demikian, pengukuran ketebalan dan pemerian litologi umum (gross lithology) masih dipandang sebagai tugas para ahli stratigrafi. Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak pengetahuan tentang ciri khas endapan sedimen—misalnya perlapisan, perlapisan silang-siur, dan ciri-ciri lain yang sering terlihat dalam singkapan—diperoleh dari hasil penelitian stratigrafi.
FAKTOR PENYEBAB SEDIMENTASI
Penutupan mulut muara
Penutupan mulut muara terutama terjadi dimusim kemarau akibat angkutan sedimen/pasir menyusur pantai yang tidak dapat terbilas oleh aliran debit sungai yang kecil. Pada saat debit sungai besar yaitu dimusim penghujan, maka mulut sungai terbuka. Pada muara sungai yang dipergunakan untuk lalu lintas nelayan keluar masuknya perahu ke lokasi pendaratan ikan tidak mengalami kesulitan. Pada saat debit kecil, di mulut muara terbentuk fomasi ambang. Perahu mengalami kesulitan untuk keluar masuk. Pada sungai-sungai yang dipergunakan untuk lalu-lintas nelayan, maka penutupan mulut muara mengganggu lalu-lntas nelayan, sementara pada muara sungai yang berfungsi sebagai alur pembuang dapat menyebabkan banjir.
Pendangkalan                                                              
Pendangkalan muara sungai terjadi dari mulut sampai pengaruh pasang surut/intrusi air asin masih ada, terutama diakibatkan oleh adanya flokulasi/ penggumpalan sedimen pada pertemuan air asin dan air tawar.
Pada Gambar 1 disajikan proses penutupan mulut muara yang menyulitkan lalu lintas perahu nelayan.

Penanganan Bencana Sedimen

Kegiatan Penanganan Bencana Sedimen berlokasi di Maguwoharjo, Yogykarta. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menjalankan amanat UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR khususnya terkait dengan Daya Rusak Air. Kegiatan Penanganan Bencana Sedimen merupakan institusi yang berada pada Kementerian Pekerjaan Umum di bawah Direktorat Sungai Pantai, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Pada awal berdiri difokuskan pada pengendalian Gunung Merapi, selanjutnya berkembang pada teknik SABO pada area vuklkanik, tahap berikutnya mengembangkan Teknik SABO pada Area Non Vulkanik dan saat ini dikarenakan situasi dan kondisi kebencanaan di Indonesia yang semakin komplek mak dikembang teknik, aplikasi dan sistem penanganan Bencana Sedimen.

Ruang Lingkup Penanganan Bencana Sedimen

  • Aspek Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air yang mengakibatkan timbulnya Bencana Sedimen.
  • Aspek Pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air yang mengakibatkan timbulnya Bencana Sedimen.
  • Aspek Rencana pengelolaan sumber daya air adalah hasil perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan sumber daya air sehingga dapat dilakukan tindakan dalam rangka pengendalian daya rusak air yang mengakibatkan timbulnya Bencana Sedimen.
  • Aspek Pengendalian daya rusak air adalah upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air yang mengakibatkan timbulnya Bencana Sedimen.

Aktivitas yang dilakasanakan pada Kegiatan Penanganan Bencana Sedimen (SABO TECHNICAL CENTRE)

  • Pengendalian daya rusak air
    Merupakan upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air, khususnya yang berkaitan dengan Bencana Sedimen.
  • Pencegahan Bencana Sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana sedimen maupun kerentanan pihak yang terancam bencana sedimen.
  • Mitigasi Bencana sedimen
    Merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana sedimen, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana sedimen.
  • Peringatan dini terhadap Bencana Sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin baik berupa sarana teknis maupun non teknis kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana sedimen pada suatu tempat.
  • Kesiapsiagaan Bencana sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana sedimen melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
  • Tanggap darurat Bencana Sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana sedimen untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
  • Menjalin kerjasama dan koordinasi
    Merupakan suatu kegiatan, tindakan dan upaya dalam rangka memperluas hubungan dengan lembaga-lembaga dan institusi di dalam dan di luar negeri dalam rangka penanganan potensi dan dampak Bencana Sedimen.
  • Pemulihan Daerah Terdampak Bencana Sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana sedimen dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi.
  • Rehabilitasi Daerah Terdampak Bencana Sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana sedimen dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah Pasca Bencana sedimen.
  • Rekonstruksi Daerah Terdampak Bencana Sedimen
    Merupakan serangkaian kegiatan pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana sedimen, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah Pasca Bencana sedimen .

Penanganan dan Penanggulangan Bencana Sedimen
Merupakan suatu kegiatan yang besifat penyebaran ilmu dalam hal penanganan masalah Bencana Sedimen kepada semua pihak. Problem erosi di Indonesia sudah mencapai tahap kritis. Bagaimana tidak?. Lihat saja kondisi sedimentasi di sungai Citandui yang mencapai 5 juta m2 kubik. Rekor tertinggi dibanding sungai-sungai lainnya namun juga masih dengan kisaran angka yang tinggi. Jadi, jangan berharap untuk melihat kebeningan sungai ataupun pantai, apalagi di kawasan pulau Jawa. 
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Sub Direktorat Pengendalian Pencenmaran Laut, Departemen Kelautan dan Perikanan, Subandono Diposantono, sebagaimana ditulis Media Indonesia. 
Akibat sedimentasi ini merupakan salah satu penyebab terjadinya erosi di pantai-pantai. Sedimentasi bahkan semakin tahun semakin meningkat. Hal ini menyebabkan beberapa muara sungai di Sumatra, Kalimantan dan Jawa menjadi dangkal. 
Sungai Citandui, Jawa Barat memecahkan rekor dengan sedimentasi pertahun yang terbawa aliran sungai ini mencapai 5 juta m2 kubik. Sementara, sungai Cikonde mencapai 770 ribu meter kubik yang diendapkan di Segara Anakan. 
Sedimentasi sungai Barito mencapai mencapai 733 ribu m2 kubik yang diendapkan di pelabuhan pelabuhan Banjarmasin, Kalimantan. Sedang sungai Mahakam, Kalimantan sedimentasinya mencapai 2,2 juta m2 kubik. 
Tinnginya sedimentasi ini mengakibatkan upaya pengerukan di pantai-pantai, terutama yang berfungsi untuk pelabuhan jadi membutuhkan dana besar. 
Contohnya, pengerukan di pelabuhan Tanjung Perak , Surabaya sampai sepanjang 25.000 meter, pelabuhan Belawan, Medan mencapai 13.500 meter, Palembang 28.000 meter, Banjarmasin 15.000 meter, Samarinda 20.000 meter, Pontianak 11.250 meter, Jambi 17.000 meter, Sampit 27.000 meter dan pelabuhan Pulai Pisa 19.000 meter. 
Akibat sedimentasi yang tinggi di sungai-sungai di Indonesia ini disamping juga adanya erosi, tak kurang dari 124 pantai di Indonesia akhirnya mengalami kerusakan. 
Pantai di Aceh, contohnya tak kurang dari 34 pantainya mengalami kerusakan. Selain karena sedimentasi, juga karena adanya pemukiman, pariwisata dan pembukaan tambak. Di Jawa Barat, pantai yang mengalami erosi mencapai 28 pantai. Sedang DKI Jakarta, tak kurang 8 pantai yang mengalami erosi. 
Memang, erosi pantai tak semata-mata karena sedimentasi. Namun, sedimentasi sungai mempunyai pengaruh besar terhadap erosi pantai. Keadaan ini sebenarnya amat memprihatinkan. Sayang, pemerintah kita kurang peduli terhadap peristiwa ini. Pemda DKI saja sanggup untuk merenovasi Patung “Selamat datang” di bundaran HI dalam rangka menyambut HUT DKI bulan ini dengan biaya tak kurang dari 14 miliar. Namun, sayang tak ada dana untuk mejernihkan sungai Ciliwung yang coklat kelam ataupun kanal-kanal lainnya di pinggiran Jakarta yang tak lagi cokelat, tapi telah hitam kelam , bahkan. Mungkin bau tak sedap Ciliwung tak sempat terhirup para pejabat, hingga kurang dirasa perlu untuk membuatnya jernih kembali.